Jumat, 01 Januari 2016

MY STORY PART 2



DUNIA BARUKU

Seperti terbangun dari mimpi, aku mulai menjalani kehidupanku sesungguhnya. Aku yang dahulu rumput liar kini aku belajar menjadi bunga yang mekar. Aku "maudy" tak lagi ingin menyembunyikan identitasku, membuangnya atau melupakannya. Aku "maudy" ingin membuat sejarah yang akan dikenal dunia. Begitulah janjiku sebagai Maudy, aku menemukan kembali duniaku yang telah lama menghilang. Aku menemukannya karena seseorang telah membuatku nyata, membuat keberadaanku tak lagi sebagai bayangan semu. Kini aku mulai belajar kembali untuk hidup, membuat pencapaian yang terbaik.
Hidupku membosankan setiap hari harus aku melakukan hal yang sama, selalu sama tak ada yang menarik untuk diulik. Setiap hari aku bangun pagi, berlari menuju halte, puluhan menit berdiri menunggu bus, berlari menuju sekolah, belajar, membaca, menulis, berjalan dibawah teriknya matahari untuk kembali menunggu, menunggu bus yang datang menjemputku. Setiap hari sama kecuali hari libur, hari libur masih saja tetap sama, sama-sama menunggu! Menunggu dunia menyapaku.
Pagi itu masih sama seperti pagi sebelumnya, bus mengantarku menuju ke tempat yang kutuju, tempat dimana segala angan dan harapan digantungkan, tempat yang banyak orang percaya dari sini mereka menemukan masa depan. Sekolah, tempat naungan keduaku setelah rumah. Bus itu menurunkanku di lampu merah sesuai permintaanku. Kulangkahkan kakiku menuju jalan seberang, dan aku mulai berlari menuju sekolah. Sampai tiba-tiba langkahku terhenti ketika melihat kerumunan orang dipinggir jalan. Biasanya aku acuh tak acuh pada keadaan seperti itu, tapi kali ini tidak. Aku merasa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi?. Aku mulai masuk dalam kerumunan orang - orang tersebut dan mulai mengamati. Dan betapa terkejutnya aku ketika kulihat putri yang sedang terduduk disana.
"Apa yang sebenarnya terjadi? " batinku saat melihat putri.
Baru kusadari ada seseorang yang kukenal berada disampingku, itu kakak kelas yang biasa berangkat bersama putri, putri memang jadi kawan yang cukup baik diawal keberadaanku dikelas mungkin karena kami menggunakan alat transportasi yang sama untuk pulang dan pergi ke sekolah. Meski jalan dan arah  yang kami ditempuh berbeda.
"Kak putri kenapa kak?" tanyaku pada mereka. Mereka hanya diam tak menjawab sepatah katapun untukku. Entah karena shock atau karena tak peduli pada pertanyaanku, entahlah!. Beberapa menit kemudian, datang seorang polisi dengan motornya membawa putri kerumah sakit. Kami semua akhirnya meninggalkan tempat itu setelah putri pergi. Aku berjalan di belakang kakak-kakak kelas menuju kesekolah. Tak ada satupun yang menjelaskan padaku tentang kejadian barusan. Dan aku mulai bertanya kembali pada mereka dengan pertanyaan yang sama. Dan hal yang sama pula kudapat, aku diam dan tak ingin berbicara lagi, hanya mendengarkan orang - orang itu berbicara.
Sesampainya disekolah aku segera berlari menuju kelas dan mencoba memberitahu teman-teman. Aku orang yang mudah panik, sehingga ketika aku memberitahu teman kupasang wajah panik dengan teriakan khasnya.
"Teman-teman, Putri kecelakan" teriakku pada beberapa anak yang sudah datang. Hanya Fia dan Uci yang berada dikelas dan menanggapiku. Sama paniknya denganku mereka buru-buru memberitahu guru piket, kamipun berlari menuruni tangga dengan cepat dan menuju ke meja guru piket yang berada disana. Uci' mengatakanpada guru bahwa putri mengalami kecelakaan di dekat pasar dan sekarang ia dibawa kerumah sakit. Sesekali uci' bertanya padaku saat menjelaskan pada guru. Aku tak mengerti seperti apa kajadian sebenarnya. Yang aku tahu hanya putri mengalami luka dibagian kaki, dan luka yang bagaimana aku juga tidak tahu karena tak ada yang mau menjelaskan padaku. Maka, kujawab pertanyaan uci' dari percakapan kakak kelas yang kudengar saat perjalanan menuju sekolah tadi. Yang aku dengar adalah putri jatuh karena truk menyrempetnya dan kakinya terlindas oleh truk itu, ini terjadi karena pasar sedang direnovasi  dan sekelilingnya ditutup seng yang tinggi yang akibatnya adalah trotoar untuk pejalan kaki menghilang. Hanya itu saja yang aku mengerti, cukup disitu.
Hari itu kami lalui dengan tenang dan sunyi, kelas tak minat dengan beberapa pelajaran yang sedang berlangsung. Mungkin karena kami ingin cepat pulang dan menengok putri. Hari berlalu sangat lambat orang-orang dikelas bergantian bertanya padaku tentang kejadian sebenarnya. Aku tak tahu, sekali lagi aku tak tahu. Saking bosannya aku menjawab pertanyaan mereka sampai rasanya ingin mengatakan bahwa kakak kelas itu tak mau menjelaskannya padaku. Tapi untuk apa aku lakukan itu, aku tak mau salah sangka dan tak ada gunanya juga aku lakukan itu.
Jam istirahat kedua berbunyi anak-anak mulai pergi meninggalkan kelas, aku juga hendak pergi hingga tiba-tiba Dirga menahanku untuk menanyakan sesuatu padaku.
"Luka putri bagian mana?" tanyanya.  Seperti biasa aku selalu panik menghadapinya, tapi kali ini aku tak peduli dengan kepanikanku dan menjawabnya secara "ngawur" sesuai dari penglihatanku tadi dan bukan pada kedaan yang sebenarnya.
Jam pulang sekolah akhirnya tiba, anak-anak mulai menyiapkan sepeda motornya masing-masing. Lia sedari tadi sudah menanyaiku ingin ikut atau tidak.
"Gimana diy jadi ikut ndak?"
"Gag tau li  inginnya sih Ikut tapi gag tau mau bonceng siapa?"
"Yo kamu nanya-nanya sek sama temen-temen ada gag yang boncengannya kosong?"
Aku cuma diam tak menjawab, lia kemudian pergi untuk bertanya pada anak-anak yang ikut.
"Kayake ada diy, nek nggak  hani ,uci' mereka berdua boncengannya kosong. Coba kamu tanya mereka berdua!"
"Makasih ya li"
"Siip tak tinggal beli buah sek ya"
"Ya, oke"
Kemudian aku bertanya pada hani, dan ternyata dia sudah dapat boncengan ,ia  mau boncengan sama nindi. Harapan tinggal pada uci', kudatangi uci' yang sedang berdiri disamping ita.
"Ci' aku boleh gag bonceng kamu ? Kata lia tadi boncenganmu kosong."
"Bolehnya sih boleh tapi aku ndak bisa ngebut kalo boncengin naek motor"
"Gagpapa ci' makasih banget hlo."
Uci hanya membalas dengan senyuman, ita yang berada disampingnya ikut nimbrung dan kemudian pamit hendak mengambil helm dirumah.
"Kamu jadinya ikut diy"
"Insyaallah, kalo kamu?"
"Sama insyaallah juga, liat fia dulu."
"Kamu jadinya bareng fia"
"Iya diy"
"Ta jadi ambil helm gag?" tanya fia dari kejauhan
"Eh iya fi" buru-buru ita berlari menuju tangga.
"Eh tunggu ta" teriakku pada ita.
"Kenapa diy ?"
"Kamu mau ambil helm?"
"Iya kenapa?"
"Aku boleh pinjem satu gag? Ntar tak kembaliin aku turun di palur jadi gag nyampe sekolah lagi"
"Oh ya oke"  itapun berlari menuruni tangga.
"Thanks ya"  teriakku menutup pembicaraan kami.

Kami semua berkumpul di depan halaman, dan saling menunggu anak- anak hingga lengkap. Aku mendekati uci' setelah aku mendapatkan helm dari ita. Tiba-tiba uci' mengatakan bahwa ia tidak bisa memboncengkanku, ia cukup takut untuk mencoba memboncengkanku.
"Tapi, aku tanggung jawab kok. Tak cariin cowok yang mau boncengin kamu."
"Gag usah ci' nek gg ada boncengannya gagpapa "
"Sorry hlo diy, bentar ya"
Sebenarnya saat itu aku hendak buru-buru pulang setelah tau keadaanya seperti itu. Tapi usaha uci' buat tanggung jawab menghentikan langkahku, akhirnya atta mau memboncengkanku. Perjalanan berangkat ke rumah putri terasa sangat lambat dan hati-hati karena diboncengkan atta. Mungkin itu untuk kali pertamanya aku diboncengkan seorang cowok seumuran dan menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Sejak hari itu pandanganku  pada atta berubah, aku mulai ingin tahu dia lebih. Ada rasa kagum yang selalu timbul saat memandanganya. Rasa itu membuat keingintahuan sendiri bagiku, Dia membuat segalanya berubah membuat kehadiranku semakin nyata. Membuatku merasa lebih berharaga, Atta dia laki-laki baik yang pernah kutemui. Dia laki-laki yang mampu menghargai wanita, Aku kagum padanya, sejak hari itu sejak kejadian aku selalu bahagia bila memandangnya. Apalagi saat berbicara dengannya, aku benar-benar bahagia bagiku setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh dengan kasih dan sayang.  Atta dia laki-laki yang cukup tampan di mataku, laki-laki yang lembut dan penuh perhatian. Semakin hari semakin aku bahagia memandangnya, tetapi semakin hari yang berlalu aku bingung dengan rasaku kutanyakan ini padaku
‘’ Apakah ini perasaan cinta? “