Fist time
Waktu... Ialah saksi bisu keberadaanku,
ia yang tahu sejarah dan masa lalu hidupku. Sejarah yang melukis awal kisah darimana
diriku ada dan masa lalu yang bercerita tentang kisah keberadaanku yang
meskipun itu sangat membosankan. Bahkan tak bisa ku bayangkan diriku di masa lalu,
kehilangan asa karena kisah yang yang dirasa sama tapi, sekali lagi waktu ialah
yang membawaku pergi pada harapan yang nyata.
Hidupku membosankan, menyedihkan
hingga kehilangan kepercayaan. Satu tahun kulalui dan kutinggalkan pergi. Satu
tahun yang membuatku sempat ingin meninggalkan mimpi, dan satu tahun yang
mematahkan keyakinanku bahwa SMA adalah masa sekolah terbaik. Kesempatan datang
ketika kenaikan kelas tiba, sudah sejak
beberapa bulan aku berdoa agar aku dipindah dari kelas yang busuk ini. Entah
dengan siapa aku nantinya, aku tak peduli! Yang kuinginkan hanyalah
meninggalkan kelas tanpa keadilan ini. Dan benar Tuhan mendengar doaku, ia
mengabulkannya tepat dihari yang kuinginkan.
Hari pertama duduk dibangku kelas XI SMA
adalah hari yang indah, melihat namaku
tak lagi berada dalam kelas lamaku menjadi kebahagianku. Walaupun mungkin ada
perasaan berat meninggalkan dua sahabatku, namun bagiku lebih berat jika aku masih
berada disana.
"Tak ada yang kukenal" batinku,
saat membaca satu persatu list nama kelas baruku.
"Amelia Kusuma" " aku
kenal dia" pikirku girang. Meskipun satu setidaknya ada yang kukenal.
"Putri Andeta" "ha! Aku
juga kenal dia" sambil menunjuk namanya aku kembali riang. Dua orang sudah
kukenal ' setidaknya'. Ada satu masalah baru menderaku setelah aku selesai
membaca list nama kelas baruku. Ternyata jumlahnya ganjil lalu "Bagaimana
ini?" aku mulai panik dan mencari dua orang yang kukenal itu.
"Put... Hey!" kupanggil Putri
dari kejauhan dan buru-buru mendekatinya.
"Put aku dipindah kekelasmu nih!
Aku boleh gag duduk sebangku denganmu?"
"Maaf diy aku udah punya temen
sebangku" jawabnya ringan.
Harapanku menghilang dan aku mulai
merasa putus asa.
"Mungkin terpaksa aku harus duduk
sendiri"
"Ya tak apalah mungkin ini lebih
baik"
"Ah! kenapa harus wanitanya
ganjil sih"
"Kenapa juga yang dipindah satu
kelas cuma aku dengan Putra, Haduh! Aku juga gag kenal dia lagi"
"Ahh! Bagaimana ini?".
Kugelengkan kepalaku tak sanggup membayangkan yang terjadi. Aku berjalan menyusuri
koridor-koridor sekolah dan berhenti untuk duduk. Aku terduduk menghadap lapangan,
melamun dalam kebingungan. Hingga tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dan
membuyarkan lamunanku.
"Diy pagi-pagi udah ngelamun"
katanya sambil menempatkan dirinya duduk disampingku.
"Eh... Lia" jawabku tanpa
semangat.
"Aku liat namamu di list kelasku
lho.. Wah! Kita satu kelas dong."
"Iya tapi," tak melanjutkan
kata
"Tapi kenapa diy?"
"Aku bingung Li gag ada yang
kukenal di kelasmu selain kamu dan Putri"
"Kenapa bingung? Ya nanti kan
bisa kenalan toh Diy" jawabnya enteng.
Tak menjawab sepatah katapun aku
kembali merengut
"Diy ... Kamu udah dapet temen
sebangku?" pertanyaan itu tiba-tiba mengembalikan senyumku, dengan banyak harapan
aku mulai berkata "Belum Li, emag kenapa?"
"Mau duduk sebangku denganku"
"Alhamdulillah" jawabku
dengan spontan sampai-sampai mengejutkan Lia yang duduk disebelahku. Dengan
wajah keheranan ia bertanya
" Kenapa Diy sampe segitunya?"
"Aku seneng dapet temen sebangku,
Aku kira akan duduk sendiri."
"Oh jadi dari tadi kamu
ngelamunin itu ya?"
"Ya hehehe" jawabku dengan
sedikit tertawa.
"Kenapa kamu dari tadi gag nyoba
nanya daripada ngelamun disini, semisal aku gag nawarin kamu pasti lamunanmu
bakal beneran deh Diy?"
"Iya.. Makasih ya li"
"Ya sama-sama"
"Sebenernya tadi aku udah nyoba
nanya Putri tapi, ternyata ia udah punya temen sebangku makanya li aku takut nanya
kamu lagi kalau-kalau jawabanya sama pasti aku tambah badmood li" aku
menambahkan.
Satu minggu kulalui tanpa berbicara
panjang dengan teman sekelasku terkecuali dengan lia. Satu minggu aku menjadi
sesosok pendiam dan pemalu seperti aku di masa lalu. Meskipun begitu satu minggu
kulalui dengan menghafal satu persatu nama teman baruku. Dengan harapan besar
kumulai hariku.
"PR.... PR baru masuk satu minggu
udah dapat pr segitu banyakanya, susah lagi" keluh Kiky pada teman sekelas
"Ya nih .... Nyebelin banget nih
sekolah" tanggap Ana sambil mengerjakan Prnya
Aku sudah berjanji sebelumnya pada diriku
untuk memulai semester ini dari awal dengan cerita baru dan semangat baru,
makanya karena itu aku merasa mudah mengerjakan Pr yang baru diberikan guru.
Satu kelas mulai sibuk mengerjakan PR,
namun aku hanya diam sambil memandangi jam dinding, menunggu bel masuk berbunyi.
"Maudy" panggil seseorang laki-laki
dibelakangku.
"Ya..." jawabku pelan.
Akhirnya dia datang menghampiriku dan
mulai bertanya
"Udah selesai toh PRmu ?""Aku
pinjem bentar dong!"
"Ooh.. " penyakit panikku
mulai kambuh saat menjawab pertanyaanya. Entah kenapa saat dia bertanya ada
sesuatu yang membuat kepanikanku ini datang.
"Niih!.." kuberikan bukuku
padanya.
"Gag usah panik gitu.."
jawabnya dengan penuh senyuman.
"Namanya siapa ya?" batinku
untuknya.
Beberapa saat kemudian dia
mengembalikan bukuku saat tepat bel masuk berbunyi. Rasa penasaran menyelimutiku
pagi itu, ingin rasanya aku bertanya pada Lia siapakah lelaki itu tapi ada
keraguan dan penyangkalan dalam diriku. Dan otakku menjawabnya dengan pasrah
"Seiring berjalannya waktu pasti aku
tahu"
Hingga tiba-tiba keberuntungan memihakku,
guru memanggil namaku dan juga namanya untuk maju kedepan kelas mengerjakan
pembahasan PR dan saat itulah aku tahu namanya. Waktu pertama, ialah hari itu
ketika sebuah perbedaan terjadi padaku. Orang mulai memandangku menyadari akan
keberadaanku lelaki itu menyadarkanku akan adanya diriku dalam keramaian, yang
membuat kepanikan ini nyata dan harapan yang mulai hilang mampu tumbuh tinggi
semauku.
Lelaki itu ialah Dirga, Andrea Dirga Utama.
#PARTONE