Minggu, 20 September 2015

cerita bersambung


Fist time
Waktu... Ialah saksi bisu keberadaanku, ia yang tahu sejarah dan masa lalu hidupku. Sejarah yang melukis awal kisah darimana diriku ada dan masa lalu yang bercerita tentang kisah keberadaanku yang meskipun itu sangat membosankan. Bahkan tak bisa ku bayangkan diriku di masa lalu, kehilangan asa karena kisah yang yang dirasa sama tapi, sekali lagi waktu ialah yang membawaku pergi pada harapan yang nyata.
Hidupku membosankan, menyedihkan hingga kehilangan kepercayaan. Satu tahun kulalui dan kutinggalkan pergi. Satu tahun yang membuatku sempat ingin meninggalkan mimpi, dan satu tahun yang mematahkan keyakinanku bahwa SMA adalah masa sekolah terbaik. Kesempatan datang ketika kenaikan  kelas tiba, sudah sejak beberapa bulan aku berdoa agar aku dipindah dari kelas yang busuk ini. Entah dengan siapa aku nantinya, aku tak peduli! Yang kuinginkan hanyalah meninggalkan kelas tanpa keadilan ini. Dan benar Tuhan mendengar doaku, ia mengabulkannya tepat dihari yang kuinginkan.
Hari pertama duduk dibangku kelas XI SMA adalah hari  yang indah, melihat namaku tak lagi berada dalam kelas lamaku menjadi kebahagianku. Walaupun mungkin ada perasaan berat meninggalkan dua sahabatku, namun bagiku lebih berat jika aku masih berada disana.
"Tak ada yang kukenal" batinku, saat membaca satu persatu list nama kelas baruku.
"Amelia Kusuma" " aku kenal dia" pikirku girang. Meskipun satu setidaknya ada yang kukenal.
"Putri Andeta" "ha! Aku juga kenal dia" sambil menunjuk namanya aku kembali riang. Dua orang sudah kukenal ' setidaknya'. Ada satu masalah baru menderaku setelah aku selesai membaca list nama kelas baruku. Ternyata jumlahnya ganjil lalu "Bagaimana ini?" aku mulai panik dan mencari dua orang yang kukenal itu.
"Put... Hey!" kupanggil Putri dari kejauhan dan buru-buru mendekatinya.
"Put aku dipindah kekelasmu nih! Aku boleh gag duduk sebangku denganmu?"
"Maaf diy aku udah punya temen sebangku" jawabnya ringan.
Harapanku menghilang dan aku mulai merasa putus asa.
"Mungkin terpaksa aku harus duduk sendiri"
"Ya tak apalah mungkin ini lebih baik"
"Ah! kenapa harus wanitanya ganjil sih"
"Kenapa juga yang dipindah satu kelas cuma aku dengan Putra, Haduh! Aku juga gag kenal dia lagi"
"Ahh! Bagaimana ini?". Kugelengkan kepalaku tak sanggup membayangkan yang terjadi. Aku berjalan menyusuri koridor-koridor sekolah dan berhenti untuk duduk. Aku terduduk menghadap lapangan, melamun dalam kebingungan. Hingga tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dan membuyarkan lamunanku.
"Diy pagi-pagi udah ngelamun" katanya sambil menempatkan dirinya duduk disampingku.
"Eh... Lia" jawabku tanpa semangat.
"Aku liat namamu di list kelasku lho.. Wah! Kita satu kelas dong."
"Iya tapi," tak melanjutkan kata
"Tapi kenapa diy?"
"Aku bingung Li gag ada yang kukenal di kelasmu selain kamu dan Putri"
"Kenapa bingung? Ya nanti kan bisa kenalan toh Diy" jawabnya enteng.
Tak menjawab sepatah katapun aku kembali merengut
"Diy ... Kamu udah dapet temen sebangku?" pertanyaan itu tiba-tiba mengembalikan senyumku, dengan banyak harapan aku mulai berkata "Belum Li, emag kenapa?"
"Mau duduk sebangku denganku"
"Alhamdulillah" jawabku dengan spontan sampai-sampai mengejutkan Lia yang duduk disebelahku. Dengan wajah keheranan ia bertanya
" Kenapa Diy sampe segitunya?"
"Aku seneng dapet temen sebangku, Aku kira akan duduk sendiri."
"Oh jadi dari tadi kamu ngelamunin itu ya?"
"Ya hehehe" jawabku dengan sedikit tertawa.
"Kenapa kamu dari tadi gag nyoba nanya daripada ngelamun disini, semisal aku gag nawarin kamu pasti lamunanmu bakal beneran deh Diy?"
"Iya.. Makasih ya li"
"Ya sama-sama"
"Sebenernya tadi aku udah nyoba nanya Putri tapi, ternyata ia udah punya temen sebangku makanya li aku takut nanya kamu lagi kalau-kalau jawabanya sama pasti aku tambah badmood li" aku menambahkan.
Satu minggu kulalui tanpa berbicara panjang dengan teman sekelasku terkecuali dengan lia. Satu minggu aku menjadi sesosok pendiam dan pemalu seperti aku di masa lalu. Meskipun begitu satu minggu kulalui dengan menghafal satu persatu nama teman baruku. Dengan harapan besar kumulai hariku.
"PR.... PR baru masuk satu minggu udah dapat pr segitu banyakanya, susah lagi" keluh Kiky pada teman sekelas
"Ya nih .... Nyebelin banget nih sekolah" tanggap Ana sambil mengerjakan Prnya
Aku sudah berjanji sebelumnya pada diriku untuk memulai semester ini dari awal dengan cerita baru dan semangat baru, makanya karena itu aku merasa mudah mengerjakan Pr yang baru diberikan guru.
Satu kelas mulai sibuk mengerjakan PR, namun aku hanya diam sambil memandangi jam dinding, menunggu bel masuk berbunyi.
"Maudy" panggil seseorang laki-laki dibelakangku.
"Ya..." jawabku pelan.
Akhirnya dia datang menghampiriku dan mulai bertanya
"Udah selesai toh PRmu ?""Aku pinjem bentar dong!"
"Ooh.. " penyakit panikku mulai kambuh saat menjawab pertanyaanya. Entah kenapa saat dia bertanya ada sesuatu yang membuat kepanikanku ini datang.
"Niih!.." kuberikan bukuku padanya.
"Gag usah panik gitu.." jawabnya dengan penuh senyuman.
"Namanya siapa ya?" batinku untuknya.
Beberapa saat kemudian dia mengembalikan bukuku saat tepat bel masuk berbunyi. Rasa penasaran menyelimutiku pagi itu, ingin rasanya aku bertanya pada Lia siapakah lelaki itu tapi ada keraguan dan penyangkalan dalam diriku. Dan otakku menjawabnya dengan pasrah
"Seiring berjalannya waktu pasti aku tahu"
Hingga tiba-tiba keberuntungan memihakku, guru memanggil namaku dan juga namanya untuk maju kedepan kelas mengerjakan pembahasan PR dan saat itulah aku tahu namanya. Waktu pertama, ialah hari itu ketika sebuah perbedaan terjadi padaku. Orang mulai memandangku menyadari akan keberadaanku lelaki itu menyadarkanku akan adanya diriku dalam keramaian, yang membuat kepanikan ini nyata dan harapan yang mulai hilang mampu tumbuh tinggi semauku.
Lelaki itu ialah Dirga, Andrea Dirga Utama.


#PARTONE